cool hit counter

PDM Kota Bogor - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM Kota Bogor
.: Home > Artikel

Homepage

HIDUP LAPANG DUNIA-AKHIRAT : Belajar dari Tadabbur Al -Qur'an

.: Home > Artikel > PDM
10 Maret 2019 07:07 WIB
Dibaca: 191
Penulis : M. Fauzi Sutopo dan Zahid Mubarak

HIDUP LAPANG DUNIA-AKHIRAT: Belajar dari Tadabbur Al -Qur'an

 (Surat Jin:1-3, Yasin: 82,  Rum: 27, Al A'raf: 96, dan Thoha Ayat 124-127)

 

Oleh :
M. Fauzi Sutopo (Dosen S2-ESK IPB, Sekretaris PDM)
dan
Zahid Mubarak, Dosen STIDKI dan Bendahara MUI Kota Bogor)

 

Sesungguhnya manusia itu makhluk Allah yang diberikan kelebihan yaitu Allah SWT berikan Akal dan Hati, karena itu, Bacalah ayat di bawah dengan hati dan pikiran yang jernih, Allah Ta'ala berfirman, yang artinya :

 

“Katakanlah wahai Muhammad: telah diwahyukan kepadaku bahwa sekelompok jin telah mendengarkan (Qur'an ini), lalu mereka berkata: 'Sesungguhnya kami telah mendengar Qur'an yang ajaib, yang menuntun ke jalan yang benar,  lalu kami beriman kepadanya, dan kami tidak akan persekutukan Rab kami dengan seorang pun'. Sesungguhnya Maha Tinggi Kebesaran Rab kami, tiadalah Dia mempersunting istri dan tiada pula mempunyai anak.”   (QS Jin [72] : 1-3)

 

Namun diantara manusia ini terdapat pula yang sesat yang tiada percaya akan adanya ba'ats (hari kebangkitan). Artinya mereka tidak percaya kepada adanya hari akhirat, padahal Allah SWT sangat mudah mengembalikan dari tidak ada menjadi ada, lalu menjadi tidak ada dan kemudian menjadi ada kembali dan hal ini lebih mudah bagiNya  (QS Rum: 27).  Lalu, Ingat Allah SWT berkata  ... Kunfayakuun -Jadilah - maka iapun tercipta_ (QS Yasin (32): 82).

 

Selanjutnya, Allah SWT berfirman QS  Thaha: 124-126, yang artinya :

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".

Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?"

 

Allah berfirman : "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan". (QS [20] : 124-126)

 

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud waman a'radla an dzikri yaitu sikap menolak perintah Allah SWT dan apa yang diturunkan kepada Rasul-Nya, kemudian mengambil aturan/hukum selain dari petunjuk Allah Ta'ala. Sedangkan Maisyatan dlanka adalah kesempitan hidup di dunia, tidak memperoleh kebahagiaan, dada mereka sempit karena kesesatannya.

 

 

Mungkinkah apa yang terjadi di negeri ini sekarang merupakan wujud nyata peringatan Allah SWT itu? Yang jelas, krisis multidimensi seolah tak berujung. Nilai rupiah semakin terpuruk dan ambruk, dekadensi moral tidak terbendung, LGBT, HIV/AIDs, Pengangguran semakin meningkat drastis, Sawah ladang menjadi gedung mercusuar, jalan Tol Berbayar Mahal, bahkan Utang semakin menumpuk, BUMN banyak Rugi dan menggunung

 

Begitu juga harga kebutuhan semakin  naik serta meroket, pendidikan semakin mahal, BPJS tidak dibayar sehingga hutang Pemerintah di RS-RS membengkak juga dan sebagainya.

 

Padahal negeri ini memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah ruah jika Koes plus bersyair tongkat di lemparpun menjadi tanaman yang indah lagi bisa dimakan, dengan penduduk yang mayoritas Muslim terbesar di dunia harusnya kita bisa secara kolektif mengelola aset aset yang Allah SWT tanamkan dan tancapkan di bumi pertiwi Indonesia ini.

 

 

Oleh karena itu berkaitan dengan ayat di atas, jangan-jangan kesempitan hidup saat ini karena kita meninggalkan aturan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Dalam kehidupan politik, para elite mengikuti paradigma Machiavelli, marxisme dan leninisme yaitu meraih tujuan dengan menghalalkan segala cara.Mereka tidak lagi memikirkan kehidupan umat. Produk hukum Islam dilecehkan dan lebih senang dengan hukum buatan sendiri. Sistem ekonomi didasarkan atas riba atau bunga berbunga. Dan sistem sosialnya mentah-mentah meniru sistem Barat, dan sebagainya.

 

 

Keadaan seperti ini yang pernah diungkapkan Sayyid Quthub: Al Islamu syaiun wal muslimu syaiun akhor (Islam adalah sesuatu dan kaum muslimin sesuatu yang lain, tidak menyatu).

Oleh karena itu, solusi terbaik untuk mengatasi kesempitan hidup ini adalah kembali menyatukan kaum Muslim dengan ajaran Islam. Kembali kepada Al-Quran dan Sunnah, serta mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tentu dalam seluruh aspek kehidupan, bukan hanya pribadi. Niscaya Allah akan menghilangkan kesempitan hidup ini, dan Dia akan melimpahkan keberkahan.

 

 

Allah berfirman :

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al Araf [7] : 96).

 

Lalu jangan sampai kita menyesal kelak di akhirat,  karena Allah SWT berfirman: "Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Sungguh,  azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.” (QS Thaha: 127).

 

 

 

Wallahu A'lam Bisshawab

.


Tags: Tadabbur , hidupbahagia
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori :

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website