cool hit counter

PDM Kota Bogor - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM Kota Bogor
.: Home > Artikel

Homepage

MENJAGA LISAN

.: Home > Artikel > PDM
14 Maret 2017 20:52 WIB
Dibaca: 327
Penulis : Zahid Mubarok, S.Th.I., M.E.I

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

          “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila segumpal daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia itu adalah hati.” (HR Bukhari Muslim)

Mengapa pada saat-saat beribadah kepada Allah, kita sering tidak merasakan kekhusyukan, apalagi sampai dapat menitikkan air mata, sehingga hampir tidak pernah terasakan lagi lezat dan nikmatnya menghadap Allah ?

Ternyata semua itu berpangkal dari hati yang kesat dan kotor. Di dalam hati yang demikian memang tak akan pernah bersemayam nuur (cahaya) iman yang sesungguhnya.

Akibat lain dari memiliki hati yang busuk, kusam, kusut, dan kotor adalah tidak akan pernah mampu kita melahirkan kalimat-kalimat lisan yang benar dan bermutu. Tiap-tiap kalimat yang keluar dari lisan, kata Syeikh Ibnu Atha’illah, pastilah membawa corak bentuk hati yang mengeluarkannya. Betapa tidak? Hati itu bisa diibaratkan dengan teko. Teko hanya mengeluarkan isinya. Bila ia berisi air kopi, maka yang keluarpun pastilah air kopi. Demikian pula jika isinya air bening, maka yang keluarpun pastilah air bening. Terjadinya lisan seseorang menghamburkan kata-kata kasar, menyakitkan, jorok dan sia-sia, semua itu tidak bisa tidak, bersumber dari hati yang tidak beres.

Seseorang yang hatinya tidak selamat akan sangat sulit mengendalikan lisannya. Apa saja yang terlihat di depan matanya niscaya akan membuat lidahnya gatal untuk segera berkomentar, terlepas dari komentarnya itu bermutu atau tidak, bermanfaat bagi dirinya atau tidak. Jelas tak akan pernah disadari bahwa perkataannya mungkin bisa sia-sia.

 Bahkan tidak jarang sang lisan jadi tergelincir ke dalam perbuatan ghibah karena hanya gemar menyelisik kekurangan dan aib orang lain. Bilapun perkataannya di dengar oleh orang yang dinilainya, maka jadilah ia perkataan yang menganiaya dan menyakiti perasaannya. Bahkan tidak jarang pula lebih meningkat lagi daripada itu, yakni fitnah! Padahal, sungguh pandangan manusia itu amat terbatas untuk menilai kebaikan atau keburukan seseorang.

Perkataan yang kurang bermutu dan hampa makna bisa juga keluar dari lisan seseorang yang didasari oleh hati yang tidak ikhlas. Ini bisa terjadi pada siapa saja. Apakah ia seorang sahabat, guru, atasan, bahkan mubaligh atau orang tua sekalipun.

Sebagus apapun kata-kata yang terucap, bila keluar dari hati yang riya, sum’ah (sekedar mencari populeritas), ujub, atau takabur, maka ia tak akan pernah mampu menghujam ke dalam lubuk hati pendengarnya.

Lidah memng tak bertulang. Mengeluarkan kata-kata yang bagaima-napun dari lisan sungguh teramat mudahnya, akan tetapi apa dampaknya dan bagaimana akibatnya, itulah yang sering tidak terpikirkan. Sepatah kata yang terucap sama sekali tidak akan membuat tubuh seseorang terluka, namun siapa yang tahu kalau justru hatinya yang tersayat-sayat. Atau sebaliknya, sepatah kata yang terucap, justru malah menjadi penyebab si pengucapnya mendapat celaka ataupun selamat, baik ketika di dunia maupun di akhirat kelak.

Rasulullah saw bersabda :

“Setiap ucapan Bani Adam itu membahayakan dirinya (bukan memberi manfaat), kecuali kata-kata amar ma’ruf nahi munkar dan dzikirullah ‘Azza wa Jalla.”(HR Tirmidzi)

Karenanya jangan heran kalau hanya disebabkan sepatah dua patah kata saja yang terlontar dari mulut bisa terjadi perkelahian, dua orang saudara bisa bermusuhan, bahkan membuat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

          “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila segumpal daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia itu adalah hati.” (HR Bukhari Muslim)

Mengapa pada saat-saat beribadah kepada Allah, kita sering tidak merasakan kekhusyukan, apalagi sampai dapat menitikkan air mata, sehingga hampir tidak pernah terasakan lagi lezat dan nikmatnya menghadap Allah ?

Ternyata semua itu berpangkal dari hati yang kesat dan kotor. Di dalam hati yang demikian memang tak akan pernah bersemayam nuur (cahaya) iman yang sesungguhnya.

Akibat lain dari memiliki hati yang busuk, kusam, kusut, dan kotor adalah tidak akan pernah mampu kita melahirkan kalimat-kalimat lisan yang benar dan bermutu. Tiap-tiap kalimat yang keluar dari lisan, kata Syeikh Ibnu Atha’illah, pastilah membawa corak bentuk hati yang mengeluarkannya. Betapa tidak? Hati itu bisa diibaratkan dengan teko. Teko hanya mengeluarkan isinya. Bila ia berisi air kopi, maka yang keluarpun pastilah air kopi. Demikian pula jika isinya air bening, maka yang keluarpun pastilah air bening. Terjadinya lisan seseorang menghamburkan kata-kata kasar, menyakitkan, jorok dan sia-sia, semua itu tidak bisa tidak, bersumber dari hati yang tidak beres.

seseorang mendekam di balik terali besi. Sebaliknya, tidak perlu heran pula bila berkat satu dua patah kata seseorang bisa selamat dari malapetaka yang akan menimpanya. Apalagi balasan yang akan menimpa kita di akhirat kelak sebagai akibat terpelihara atau tidaknya lisan.

“Barang siapa yang memelihara apa yang ada di antara janggutnya (yakni lisannya) dan apa yang ada di antara kedua pahanya (yakni farjinya) karena aku,” sabda Rsulullah, “niscaya akan kujamin dia masuk surga.”(HR Bukhari).

Sesungguhnyalah, “Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah dua lubang, yaitu mulut dan farji.” (HR Tirmidzi) 

Dengan demikian, hendaknya kita selalu berhati-hati dengan lisan. Setiap kata yang hendak diucapkan hendaknya terlebih dahulu dipikirkan masak-masak. Sekiranya kata-kata yang akan terucapkan itu tidak ada manfaatnya, sebaiknya kita memilih diam.

Rasulullah saw bersabda,

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia mengucapkan kata-kata yang baik atau diam.”(HR Bukhari Muslim)

Hati yang selamat tidak hanya akan menyelamatkannya di dunia, tetapi juga di yaumil hisab nanti. Yakni, “Yauma laa yanfa’u maalun walaa banuun, illa man atallaaha bi qalbin saliim.”

Allah berfirman dalam Al Qur’an surat Asy Syu’ara[26] : 88-89 yang artinya :

Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi bermanfaat, kecuali orang-orang yang menghadap Allah degan hati yang bersih”. 

"Orang yang paling beruntung di dunia ini adalah “fal yaqul khairan au liyashmut”, orang yang sangat bisa memperhitungkan setiap kata-katanya.

Hati yang selamat,

Subhanallah, 

siapapun pasti merindukannya.

Wallahu a’lam bish-showab


Tags:
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori :

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website