cool hit counter

PDM Kota Bogor - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM Kota Bogor
.: Home > Artikel

Homepage

Ramadhan yang Mabrur

.: Home > Artikel > PDM
04 Juni 2018 16:43 WIB
Dibaca: 218
Penulis : Zahid Mubarok Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam (STIDKI) BOGOR / Wakil Bendahara

Bulan suci Ramadhan yang sudah sebentar lagi akan memasuki babak terakhir dalam perjalanannya pada tahun ini begitu cepat bergulir, namun kita masih terus akan berjuang sampai Allah SWT mengampuni dosa dosa kita.  Maka oleh karena itu Ramadhan hingga hari ini harus masih menjadi Ramadhan tidak sekedar baik, tapi harus menjadi Ramadhan luar biasa dan istimewa. Karena ada pelajaran amat berharga yang bisa kita sebut Ramadhan Mabrur. Karena mabrur tidak hanya terletak dalam ibadah haji saja, namun mabrur juga harus bisa kita peroleh saat kita melaksanakan ibadah –ibadah yang lain termasuk dalam bulan suci Ramadhan.

 

Kalau kita baca dan buka dalam kamus arti dari mabrur secara bahasa, mabrur berasal dari kata “al-birru”, yang artinya “kebaikan”. Ada pula yang menyebut bahwa mabrur berasal dari kata “barra- yaburru- barran” yang artinya “taat berbakti”. Mabrur (al birru) dalam kamus Al Munawwir Arab – Indonesia disebutkan bahwa al birru memiliki arti ketaatan, kesalehan, atau kebaikan. Begitu juga mabrur (al birru) dalam Kitab Lisan Al Arab, dapat memiliki arti baik, suci, dan bersih dapat juga diartikan maqbul atau diterima.

 

Berdasarkan beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa mabrur berarti diterimanya ibadah seorang muslim oleh Allah SWT. Oleh sebab itu Ramadhan kita akan di sebut mabrur jika terdapat ciri-ciri sebagai berikut . Hal ini juga menjadi bahan evaluasi bagi kita khususnya dalam menjalani Ramadhan tahun ini. Setidaknya ada 5 ciri dari mabrurnya Ramadhan kita.

 

Pertama , Salimul Aqidah (Akidah yang semakin baik)

Ramadhan akan menempa diri kita untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ditandai dengan semakin kuatnya ikatan hati kita kepada Allah SWT . Semakin kuat ikatan itu, akan semakin rindu kita kepada Allah Ta’ala. Dalam praktiknya, kita akan merasa sedih jika melewatkan momen-momen ibadah. Merasa sedih jika tertinggal sholat berjamaah, merasa menyesal karena terlewat sholat dhuha , terlewatkan berjamaah tarawih dan witir , membaca Al –Qur’an  dan contoh lainnya yang membuat kita menyesal jika melewatkan aneka momen kebaikan dalam bulan suci Ramadhan. Karena dengan semakin baik dan lurusnya aqidah kita , seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Sang pencipta . sebagaimana Allah SWT telah berfirman yang artinya : “ Sesungguhnya Sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua untuk Allah tuhan semesta alam”. (Qs. Al An’am : 162)

 

Kedua , Salimul Ibadah (Ibadah yang semakin baik)

Bagaimana dengan kondisi ibadah kita? Apakah bertambah kualitas dan kuantitasnya? Hal ini juga yang menjadi parameter mabrur-tidaknya Ramadhan kita. Jika pada saat sebelum Ramadhan masih melewatkan ibadah-ibadah sunah, maka Ramadhan ini adalah momen yang tepat untuk meningkatkan amalan-amalan sunah. Entah itu sholatTarawih dan Witir ,  Qiyamul lail , dhuha, membaca Al-Quran, sholat sunnah  rawatib, ataupun amalan-amalan sunah lainnya.

 

Jika kita sudah bisa mengalahkan rasa malas untuk terus meningkatkan ibadah kita sesuai dengan perintah dan contoh dari baginda Rasulullah SAW maka ini merupakan ciri dari Salimul ibadah (Ibadah yang semakin baik untuk hamba hamba Allah Ta’ala). Allah SWT telah memberitakan kepada kita bahwa Dia menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada-Nya. Firman Allah SWT. Artinya: “ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. (Qs. Adz-Dzariyat:56). Oleh karena itu Allah SWT memberikan ujian dengan perintah ibadah , melaksanakan perintah, dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah SWT berfirman. Artinya “ (Allah) yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (Al Mulk:2).

 

Ketiga ,  Salimul Akhlak (Akhlak yang semakin baik)

Mabrur-tidaknya Ramadhan juga bisa dilihat dari parameter akhlak kita. Apakah semakin hari semakin baik, atau masih seperti dulu, sama saja? Memang, karakter seseorang itu sulit untuk diubah, karakter menjadi suatu barang yang unik dari setiap manusia. Namun, walaupun karakter cenderung “permanen” atau istilahnya “dari sononya begitu”, tapi akhlak seseorang dapat diperbaiki. Melalui Ramadhan, akhlak kita akan dibina hingga melahirkan kesalehan Spiritual, Kesholehan Intelektual, Kesholehan Emosiinal dan Kesholehan Sosial.

 

Keempat : Salimul Fikr (Pemikiran yang semakin baik)

Kualitas pemikiran seseorang dipengaruhi oleh ilmu yang dia terima dan dari kondisi lingkungannya. Ilmu yang didapat bisa bersumber dari bahan bacaan, tontonan, majelis taklim, bangku sekolah formal dan non formal hingga pergaulan. Ilmu yang didapat akan mengakar menjadi pemahaman yang melandasi pola pikirnya, lalu pola pikir itu akan melahirkan suatu tindakan yang berujung pada karakter seseorang. Semakin baik ilmu yang didapat, akan semakin baik pemikiran seseorang sebagaimana filosofi padi semakin tua dan berisi akan semakin merunduk (taat) bukan malah semakin ‘menantang’ langit. Ramadhan menjadi ajang pembelajaran yang berharga untuk meningkatkan kapasitas pemikiran seseorang maka Ramadhan Juga di sebut dengan Syahrut Tarbiyyah (bulan pendidikan) semakin kita cerdas dalam mengisi Ramadhan maka Allah SWT akan mewisuda kita dengan gelar yang amat tinggi di sisinya mengalahkan gelar-gelar keduniawian  yaitu gelar kataqwaan (Qs. Al Baqoroh: 183).

 

Kelima Salimun Nafs (Jiwa yang semakin baik)

Jika merujuk pada pepatah “mensana in corpore sano” : di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, maka Ramadhan adalah momen yang tepat untuk menyehatkan tubuh dan jiwa sekaligus. Bagaimana tidak? Para ahli medis pun bersepakat bahwa puasa dapat meningkatkan kesehatan seseorang. Dari tubuh yang sehat itu, seseorang dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya secara maksimal. Selain itu, puasa dapat menahan hawa nafsu seseorang sehingga jiwanya akan terlatih untuk menghindari kesia-siaan─yang merupakan tanda baiknya seorang muslim. Rasulullah SAW bersabda : “Puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah, ‘Aku sedang berpuasa” (HR. Bukhori dan Muslim). Maka oleh karena itu puasa menjadikan jiwa pelakunya semakin baik karena mengkombinasikan dua kesehatan yaitu tubuh dan jiwa itu, kemudian akan melahirkan manusia yang paripurna.

 

Nah, yang menjadi pertanyaannya adalah : adakah kelima tanda-tanda itu bersemayam pada sudut-sudut diri kita? Apakah Ramadhan ini telah membina diri kita menjadi pribadi yang mabrur? Tidak perlu dijawab dengan kata-kata. Mari kita sama-sama mengoptimalkan Ramadhan yg terus berjalan untuk mengejar tanda-tanda kemabruran itu. Semoga kita digolongkan ke dalam hamba-Nya yang bertakwa dan mendapatkan kemenangan dari Allah SWT. Amin.


Tags:
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori :

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website