PDM Kota Bogor - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM Kota Bogor
.: Home > Berita > Prof Hermanto Siregar Ingatkan Mensejahterakan Umat Harus Menjadi Prioritas

Homepage

Prof Hermanto Siregar Ingatkan Mensejahterakan Umat Harus Menjadi Prioritas

Sabtu, 16-04-2022
Dibaca: 87

bogor-kota.muhammadiyah.or.id - Kesejahteraan umat Islam harus menjadi prioritas ormas Islam di Indonesia khususnya Muhammadiyah. Hal itu sesuai surat Al-Ma'un.

 

Demikian dikatakan Sekretaris Umum Forum Guru Besar Muhammadiyah Jawa Barat (FGBMJB) dan Rektor Universitas Perbanas Jakarta Prof. Dr. Hermanto Siregar, M.Ec. di Aula PDM Kota Bogor, jalan Merdeka No.118 Bogor (10/4/2022).

 

Menurut Hermanto, Allah memberikan peringatan yang keras bagi umat Islam yang tidak memberikan kesejahteraan. "Bisa disebut mendustakan agama Allah. surat Al-Ma'un, khususnya ayat 4-7 : Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat ria, dan enggan (memberikan) bantuan," paparnya.

 

Maksud dalam ayat tersebut orang yang sudah mengerjakan/menegakan salat tetapi masih tergolong orang yang celaka, yaitu yang lalai terhadap salatnya, tidak khusu, bersifat riya dan enggan memberikan bantuan.

 

Sebagian mufasir menterjemahkan bantuan itu dengan zakat, tetapi dalam keadaan saat ini bisa diberi konteks yang lebih luas lagi yaitu zakat, infaq, sodaqah, dan wakaf.

 

"Enggan saja kita membantu apalagi benar-benar tidak mau bantu sudah termasuk celaka dalam melaksanakan salat. Jadi tidak main-main mengenai bagaimana kita menghandel orang-orang miskin, terutama pada kita yang mempunyai tangan dan penanya, mempunyai kekuatan, artinya pembuat kebijakan. Jadi itu resikonya sangat besar apabila tidak mau membantu orang-orang miskin," paparnya.

 

Menurut data BPS yang terakhir dipublish yaitu bulan September 2021 di Indonesia masih ada 26,5 juta (duapuluh enam setengah juta) orang miskin. Duapuluh enam setengah juta itu merupakan 9,7% dari total populasi penduduk dan hampir sama dengan penduduk satu negara di Malaysia. Jadi kalau kita masih bisa tidur nyenyak sementara yang 26,5 juta itu mayoritas adalah umat, umat Islam, kita berrisiko masuk ke dalam orang-orang yang mendustakan agama dan termasuk pada orang yang salat tapi celaka.

 

Di Malaysia jumlah penduduk miskin hanya 0,4% (nol koma empat persen) tidak sampai setengah persen, di kita (Indonesia) 9,7%, padahal di sana umat Islam atau katakanlah pribuminya 65%, di Indonesia 85% umat muslimnya. Mengapa yang 85% ini, orang-orang hebatnya, orang-orang kayanya tidak tersentuh dengan surat Al-Maun.

 

"Kita harus memperhatikan kesejahteraan umat. Definisi sederhananya sejahtera itu tidak miskin, tidak sejahtera itu miskin. Ancaman besar bagi kita jika tidak mau memperhatikan kesejahteraan umat. Kita harus punya kemampuan dan kemauan untuk membantu orang-orang miskin," tegasnya.

 

Di Muhammadiyah Gerakan pesan untuk membantu kesejahteraan umat cukup baik, tapi masih harus ditingkatkan melalui Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), Pendidikan dan Kesehatan.

 

Dalam surat Al-Mu’minun ayat 1, “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman”.

Jadi kalau tadi di surat Al-Ma’un diancam (ayat 7), di surat Al-Muminun dikasih harapan oleh Allah SwT. Zakat termasuk di antara ibadah-ibadah di bulan Ramadhan, kalau bisa ditingkatkan jangan hanya sekedar menjalankan kewajiban, bisa lebih ditingkatkan dari 2,5% kalau bisa ditingkatkan menjadi 10% untuk membantuk orang-orang yang tidak sejahtera.

 

Jadi kita termasuk orang-orang yang beruntung kalau mau melaksanakan zakat, membantu panti (temasuk panti jompo), membantu orang-orang miskin terutama orang miskin yang lemah, yang tidak mempunyai pekerjaan. Orang miskin yang masih sanggup bekerja tapi tidak cukup, dibantu agar usahanya berkembang, sehingga dari pra sejahtera menjadi sejahtera.

 

Anak-anak dari orang miskin dibantu agar bisa mendapatkan Pendidikan, hingga Pendidikan tinggi. Pendidikan merupakan tangga.

 

Kalau sudah sejahtera yang tadinya kita bantu menjadi sejahtera , mampu membayar zakat, infaq, sodaqah dan wakaf.

 

Mensejahterakan umat harus menjadi skala prioritas. Esensinya umat Islam harus pintar, kalau tidak pintar meski jumlahnya banyak, maka umat lain yang segelintir akan mendominasi keseluruhan Indonesia. Umat Islam jumlahnya besar tapi kualitasnya kurang karena yang punya akses ke perguruan tinggi kurang. Untuk itu kita harus tingkatkan umat Islam yang punya akses ke perguruan tinggi sehingga banyak umat Islam yang pintar.

 

Tidak hanya pintar, tapi juga harus punya skill atau keterampilan. Keterampilan di era sekarang sangat dibutuhkan. Banyak S1 sulit mencari kerja, untuk itu strateginya ada dua, jika pintar borong sekaligus S1, S2 hingga S3. Namun jika tidak menjadi intelektual maka perbanyak keterampilan-keterampilannya. Istiahnya pendidikan vokasi, didorong supaya berkembang dan terutama orang-orang miskin supaya bisa akses. (\Tirka)


Tags:
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori:



Arsip Berita

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website